Getah Kuning Si Buah Manggis


Manggis (garcinia mangostana L.) merupakan salah satu buah tropik yang banyak dikenal dan digemari oleh masyarakat Indonesia dan Internasional. Tidak mengherankan kalau buah manggis mendapat julukan sebagai Queen of Fruit karena keistimewaan dan kelezatan serta tekstur daging buah yang dimiliki. Julukan lain untuk manggis ini adalah Nectar of Ambrosie, Golden Apples of Hesperides dan Finest Fruit in the World.

Prospek pasar buah eksotik ini sangat cerah baik untuk pasar dalam negeri maupun untuk pasar ekspor. Untuk ekspor, komoditas manggis ini dianggap sebagai primadona karena volume dan nilai ekspornya sangat tinggi dibandingkan dengan komoditas buah lainnya. Sampai saat ini manggis Indonesia telah diekspor ke 40 negara, yang terbesar adalah Taiwan, Hongkong, Singapura, Malaysia, RRC, Saudi Arabia, Belanda, Jerman dll.

Meskipun manggis Indonesia telah ekspor ke beberapa Negara, namun prosentase ekspornya masih rendah dibandingkan produksi manggis secara nasional. Hal ini disebabkan karena kualitas buah manggis yang dihasilkan banyak yang tidak memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan. Penyebab rendahnya kualitas buah manggis diakibatkan oleh adanya serangan hama penyakit, munculnya getah kuning pada buah dan pascapanen yang kurang baik.

Kriteria standar manggis mutu ekspor meliputi warna kulit buah seragam dengan kelopak yang masih hijau dan segar, tidak rusak, bersih, bebas dari hama penyakit, tidak terdapat getah kuning pada kulit dan tangkai buah serta daging buah berwarna putih bersih. Untuk dapat memanfaatkan pasar domestik dan ekspor, maka kualitas buah manggis harus ditingkatkan.

Getah kuning ( Gamboge ) merupakan kendala utama dalam meningkatkan ekspor manggis karena menyebabkan rendahnya kualitas buah sehingga tidak layak ekspor dan merupakan masalah serius bagi para pelaku agribisnis manggis. Getah yang masuk kedalam dan mencemari daging buah akan menyebabkan rasa tidak enak dan pahit sehingga tidak layak konsumsi ( Verhij dan Coronel 1992, Krisnamurthi dan Rao 1962 ).

Munculnya getah kuning pada buah manggis dapat terjadi baik sebelum panen maupun setelah panen. Munculnya getah kuning setelah panen akibat penanganan panen dan pascapanen yang kurang baik sejak pemetikan, pengemasan, pengangkutan sampai ke konsumen. Penyebab terjadinya getah kuning sebelum panen, awalnya tidak diketahui secara pasti sehingga sulit untuk mengendalikannya. Beberapa ahli berpendapat bahwa penyebab getah kuning pada buah manggis karena gangguan mekanis (benturan, gigitan serangga,dll). Namun ahli lain mengatakan bahwa getah kuning merupakan gejala fisiologis yang berkaitan dengan pecahnya dinding sel akibat tekanan turgor yang disebabkan oleh perubahan lingkungan secara ekstrim. Pernyataan ini didukung oleh Morton (1987) dan Sidode dan Limpun Udom (2002), yang menyatakan bahwa keluarnya getah kuning merupakan kelainan fisiologis yang disebabkan oleh kelebihan air akibat hujan lebat yang terjadi sebelum panen dan teriknya sinar matahari. Verheij dan Coronel (1992) juga menyatakan bahwa keluarnya getah kuning disebabkan oleh pengairan yang berlebihan setelah kekeringan.

 

Dari hasil penelitian ahli yang telah dilakukan sebelumnya menunjukkan bahwa getah kuning yang terdapat pada kulit buah bagian luar (pericarp) berbeda dengan getah kuning yang terdapat pada kulit bagian dalam (endocarp). Getah kuning pada pericap disebabkan faktor fisiologis dan gangguan mekanis seperti gigitan serangga, benturan, dll. Sedangkan getah kuning endocarp lebih disebabkan karena faktor endogen (fisiologis). Getah pada endocarp ini akan mencemari daging buah sehingga rasanya menjadi tidak enak, pahit dan tidak layak konsumsi.

Getah kuning pada endocarp dapat dikurangi dengan perlakuan pengairan atau pemberian air di sekitar perakaran tanaman manggis secara tetes terus menerus selama proses perkembangan buah. Hal ini dapat menurunkan prosentase getah kuning yang terjadi pada endocarp. Pemberian air secara tetes terus menerus pada perakaran tanaman akan dapat menstabilkan kadar air dalam tanah sehingga tidak terlalu berfluktuasi antara hari hujan dan hari panas. Dengan demikian tekanan turgor pada dinding sel tidak mengalami perubahan kadar air sehingga dinding sel tidak pecah dan prosentase getah kuning endocarp pada buah manggis berkurang.

Terlaporkan bahwa prosentase buah manggis yang tidak bergetah kuning dipengaruhi oleh pengairan. Pemberian air secara tetes terus menerus selama proses perkembangan buah dapat meningkatkan prosentase buah manggis yang bebas getah kuning.

Keberhasilan penerapan teknologi mengurangi getah kuning pada buah manggis didukung oleh ketersediaan sumber air yang dapat dimanfaatkan untuk pengairan secara tetes terus menerus selama fase perkembangan buah dan tersedianya tenaga kerja yang bisa mengontrol suplai air agar tidak pernah berhenti menetes selama masa perkembangan buah.

You May Like